Jakarta, CNN Indonesia —
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap Siklon Senyar melanda Aceh Sampai saat ini Sumatra Barat memecahkan Catatan Unggul curah hujan tertinggi sejak 1991.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan Siklon Tropis Senyar yang melanda wilayah Sumatra pada akhir 2025 memicu curah hujan jauh di atas normal dan mencatatkan Catatan Unggul baru di Sebanyaknya daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Siklon Senyar Sebelumnya menghasilkan Catatan Unggul curah hujan dasarian III November tertinggi sejak 1991. Di Kecamatan Koto Tangah, Sumatra Barat, curah hujan selama periode bencana mencapai sekitar tiga kali lipat dari hujan normal bulan November. Sementara di Singkil Utara, Aceh, curah hujan mencapai dua kali lipat dari kondisi normalnya,” ujar Ardhasena saat berbicara di Universitas Sumatra Utara, melansir laman resmi BMKG, Selasa (10/2).
Ardhasena menjelaskan kemunculan Trend Populer alam seperti Siklon Tropis Senyar merupakan bagian dari tren krisis iklim yang berlangsung secara konsisten.
Menurutnya krisis iklim bukan lagi ancaman Nanti, melainkan Sebelumnya berlangsung dan berdampak nyata terhadap kehidupan masyarakat Di waktu ini.Salah satu dampak yang kian terasa Merupakan meningkatnya intensitas curah hujan ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.
Tren krisis iklim di Indonesia Bahkan tercermin dari hasil analisis BMKG. Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata mencapai 27,5 derajat Celsius.
Sementara itu, tahun 2025 menempati peringkat keenam sebagai tahun terpanas dengan suhu rata-rata 27,04 derajat Celsius dan anomali suhu sebesar +0,38 derajat Celsius dibandingkan periode normal 1991-2020.
Ardhasena memperingatkan kondisi iklim Indonesia ke depan Berencana semakin mengkhawatirkan Seandainya tidak disertai upaya mitigasi yang dilakukan secara kolektif. Sesuai ketentuan proyeksi BMKG, seluruh wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kenaikan suhu Sampai saat ini 1,6 derajat Celsius pada periode 2021-2050.
Selain peningkatan suhu, krisis iklim Bahkan diproyeksikan mengubah pola curah hujan. Wilayah utara Indonesia diperkirakan menjadi lebih basah Sampai saat ini 8 persen, sedangkan wilayah selatan berpotensi menjadi lebih kering Sampai saat ini minus 9 persen.
Akibatnya, kejadian hujan ekstrem dengan periode ulang 100 tahun Diprediksi Berencana terjadi jauh lebih sering.
“Sebagai contoh, hujan intensitas 250 milimeter yang tadinya berulang 100 tahun sekali, Diprediksi Berencana muncul setiap kurang dari 20 tahun,” jelasnya.
Dampak serius lainnya dari Pergantian Iklim Merupakan mencairnya tutupan es di Puncak Jaya, Papua. Sejak 1988, luas es tersebut Sebelumnya berkurang sekitar 98 persen dan diperkirakan Berencana habis sepenuhnya pada akhir 2025 atau awal 2027.
Apalagi, kenaikan muka air laut di Indonesia tercatat mencapai 4,36 milimeter per tahun, yang berpotensi Mengoptimalkan risiko Bencana Banjir rob dan abrasi di wilayah pesisir.
(wpj/dmi)
[Gambas:Video CNN]
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
