REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gelombang Ketidaksetujuan pelajar yang meluas di Prancis bertemu dengan persoalan yang jauh lebih besar daripada ruang kelas yang penuh sesak dan kekurangan guru. Pemerintah Pemimpin Negara Emmanuel Macron menghadapi tuntutan penambahan anggaran pendidikan ketika utang publik Pernah mencapai 119 persen produk domestik bruto (PDB), biaya pinjaman melonjak, dan pemerintah justru Baru saja berusaha memangkas defisit.
Lebih dari 266 ribu orang turun ke jalan di seluruh Prancis pada Selasa (6/10/2026), menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis. Organisasi penyelenggara menyebut jumlah peserta mencapai sekitar 450 ribu, sementara aksi di Paris saja diikuti 56 ribu orang menurut pemerintah.
Reuters menggambarkan aksi tersebut sebagai salah satu gelombang Ketidaksetujuan pelajar paling keras di Prancis dalam beberapa dekade. Pelajar sekolah menengah menjadi Kendaraan Bermotor Roda Dua gerakan, kemudian mendapat dukungan mahasiswa, guru, orang tua, dan organisasi pekerja.
Tuntutan mereka konkret: lebih banyak guru, kelas yang tidak terlalu padat, bangunan sekolah yang layak, dan perbaikan kondisi belajar. Ketidaksetujuan bermula pada 21 September di sebuah sekolah menengah di Créteil, pinggiran Paris, setelah siswa mempersoalkan posisi guru yang belum terisi, sebelum menjalar ke berbagai kota.
Justru, memenuhi tuntutan itu bukan perkara sederhana. Di balik Ketidaksetujuan anak-anak muda tersebut, Prancis Baru saja berhadapan dengan salah satu persoalan fiskal paling berat di zona euro.
Utang Prancis
Badan statistik Prancis, INSEE, mencatat utang publik Prancis mencapai 3,5955 triliun euro pada akhir kuartal kedua 2026. Jumlah tersebut setara dengan 119 persen PDB, naik dari 117,5 persen pada kuartal sebelumnya.
Dengan kurs euro terhadap Mata Uang Asing AS sekitar level Sekarang, nilai utang tersebut berada di kisaran lebih dari 4 triliun Mata Uang Asing AS. Justru, ukuran yang lebih relevan bagi kesehatan fiskal Merupakan rasio terhadap PDB, yang menunjukkan beban utang Prancis Sekarang jauh melampaui nilai produksi ekonomi tahunan negara itu.
Le Monde menyebut posisi tersebut sebagai level utang tertinggi Prancis sejak periode pascaperang. Pemerintah sendiri memperkirakan keadaan belum Nanti akan membaik: dalam rancangan anggaran 2027, rasio utang diproyeksikan naik lagi menjadi 121,7 persen PDB.
Masalahnya bukan hanya besarnya utang. Prancis Bahkan Wajib membayar bunga yang semakin mahal karena tingkat suku bunga dan imbal hasil obligasi terus meningkat.
Le Monde melaporkan pemerintah memperkirakan pembayaran bunga Pinjaman Negara pada 2026 berada di sekitar 65 miliar euro, naik tajam dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Bila dibandingkan Merujuk pada pengelompokan anggaran tertentu dan tidak memasukkan pensiun pegawai negeri, beban bunga tersebut bahkan sedikit melampaui anggaran pendidikan sekolah dan Lini belakang.
Pasar Mulai Meminta Premi Risiko
Tekanan terhadap Prancis semakin terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun baru-baru ini menembus 5 persen, level tertinggi dalam sekitar 24 tahun, ketika investor melepas surat utang Prancis di tengah kekhawatiran terhadap defisit, utang, dan ketidakpastian politik.
Selisih atau spread antara obligasi Prancis dan Bund Jerman Bahkan sempat melewati 150 basis Skor, level tertinggi sejak 2011. Semakin lebar selisih tersebut, semakin besar tambahan imbal hasil yang diminta investor untuk memegang surat utang Prancis dibandingkan surat utang Jerman yang dianggap lebih Terpercaya.
Gejolak itu Pernah merembet ke mata uang. Euro jatuh ke level terendah dalam 17 bulan terhadap Mata Uang Asing AS pada awal pekan karena investor semakin khawatir terhadap kondisi fiskal Prancis dan ketidakpastian politik menjelang pemilihan Pemimpin Negara 2027.
Kepala Banque de France Emmanuel Moulin pada Rabu (7/10/2026) mengatakan Prancis belum membutuhkan bantuan Bank Indonesia Eropa (ECB). Ia menekankan bahwa solusi utama justru berada di tangan pemerintah dan parlemen Prancis melalui anggaran yang dapat menurunkan defisit dan mengembalikan kepercayaan investor.
Disebut Bahkan, tekanan pasar belum berubah menjadi krisis utang. Tetapi ruang Prancis untuk melakukan kesalahan kebijakan semakin sempit.
Loading…
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











