loading…
Nilai Mata Uang Uang Negara Indonesia melemah pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2026). FOTO/dok.SindoNews
“Trump Bahkan secara tak terduga mengumumkan pada hari Minggu bahwa Ukraina dan Rusia Sudah menyepakati gencatan senjata terkait energi; Bertolak belakang dengan, pemimpin Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan masih menunggu rincian kesepakatan tersebut, sementara pihak Rusia tidak Menyediakan komentar,” tulis analis pasar uang dan Barang Dagangan Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Senin (12/10/2026).
Baca Bahkan: Uang Negara Indonesia Rawan Melemah ke Rp17.950 per USD AS, Sentimen Defisit APBN Jadi Pemicu
Ibrahim mengatakan sentimen eksternal turut dipengaruhi ketegangan di Timur Tengah, termasuk laporan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Perkembangan tersebut berpotensi menghambat pemulihan Perdagangan Keluar Negeri minyak mentah dari kawasan Timur Tengah dan Memanfaatkan ketidakpastian pasar global.
Selain faktor Politik Global, pasar mencermati pernyataan Sebanyaknya pejabat Lembaga Keuangan Pusat AS atau Federal Reserve (The Fed) yang membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut Seandainya data ekonomi Membantu langkah tersebut. Investor pada pekan ini Bahkan menantikan rilis data Fluktuasi Harga Barang dan Jasa konsumen dan produsen AS, data penjualan ritel, serta pernyataan pejabat The Fed yang dapat memengaruhi arah USD AS.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada perkembangan evaluasi MSCI terhadap Bursa Efek Indonesia, termasuk risiko pembekuan perlakuan tertentu Sampai sekarang kemungkinan penurunan status menjadi frontier market. Menurut Ibrahim, penyelesaian persoalan secara Mudah dapat mengakhiri perlakuan khusus dalam sekitar satu tahun, sedangkan proses yang berlarut-larut berpotensi memperpanjang pembekuan atau Memanfaatkan risiko penurunan klasifikasi.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











