3 Tanda Rezim Khamenei di Iran Bisa Makin Melemah

Jakarta, CNN Indonesia

Iran menjadi sorotan karena Aksi Massa besar-besaran yang mengguncang negara itu Sampai sekarang Di waktu ini Pernah menewaskan 646 orang. Amerika Serikat dan sekutunya mewanti-wanti pemerintahan bisa tumbang Bila terus menanggapi pedemo dengan Tindak Kekerasan.

AS Bahkan menunjukkan sinyal bakal menyerang Iran dengan klaim Mendukung kebebasan rakyat. Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menilai pemerintahan Donald Trump punya motif lain: mengincar minyak.



ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khamenei Bahkan menduga kerusuhan yang terjadi di Iran belakangan ini ada campur tangan AS.

“Mereka memulai konflik ini. AS yang memulainya, musuh yang bergantung pada AS yang memulai ini. Mengapa mereka memulai ini? Mengapa AS begitu muak dan marah terhadap Iran? Penjelasannya jelas. Itu karena kekayaan negara ini,” ucap Khamenei.

Iran pernah punya riwayat diguncang Aksi Penolakan besar Sampai sekarang pergantian pemerintahan. Bertolak belakang dengan, perubahan itu Bahkan tak lepas dari campur tangan asing.

Dalam Aksi Penolakan kali ini dan 2022 lalu, Iran kembali diguncang unjuk rasa besar-besaran setelah Mahsa Amini tewas. Warga saat itu menuntut keadilan dan transparansi. Bertolak belakang dengan, pasukan keamanan menindak pendemo dengan Tindak Kekerasan.

Aksi Penolakan kali ini pun menggambarkan pola yang sama: Penolakan massal, penindasan, dan seruan perubahan pemerintahan. Bertolak belakang dengan, pergantian rezim tak bisa terjadi begitu saja.

Meski tak langsung berganti, ada situasi atau tanda-tanda yang bisa membuat rezim Khamenei melemah, dikutip CNN.

1. Lebih lemah dari sebelumnya

Sejak Israel meluncurkan agresi ke Palestina, Iran Merupakan salah satu negara yang paling keras mengecam pemerintahan Benjamin Netanyahu.

Milisi-milisi yang didukung Iran Bahkan turut melancarkan serangan ke Israel sebagai bentuk dukungan atau solidaritas ke warga di Palestina.

Iran bahkan beberapa kali sempat bertempur dengan Israel saat agresi di Gaza masih membara. Beberapa di antaranya pada Oktober 2024 dan Juni 2025 atau yang dikenal Pertempuran 12 Hari.

Serangan terakhir membuat Lini belakang Iran berkurang meski mereka mengeklaim senjata andalannya belum dikeluarkan dan kehancurannya tak seberapa.

Bertolak belakang dengan, Bila AS dan Israel Nanti akan melancarkan serangan Niscaya Nanti akan membuat Lini belakang Iran kian melemah.

Baca ke halaman selanjutnya >>>

2. Faktor eksternal

Trump Pernah terjadi berulang kali menyatakan ancaman untuk menggempur Iran dengan dalih membela warga sipil. Sebelum Pertempuran 12 hari, Teheran bisa saja menganggap ancaman itu gertakan biasa.

Bertolak belakang dengan, setelah Pertempuran Juni berlangsung, Iran Sangat dianjurkan punya strategi baru dan bersiap.

AS Bisa jadi Bahkan memilih untuk menargetkan para pemimpin milisi Basij. Bertolak belakang dengan, tidak seperti serangan AS sebelumnya, operasi tersebut Nanti akan lebih dinamis dan tidak Jelas.

Di luar aksi militer, Trump bisa memperketat Hukuman terhadap Iran. Ia Bahkan bisa bekerja sama dengan perusahaan teknologi terkemuka AS untuk Mendukung langkah-langkah yang Bisa jadi memungkinkan warga Iran untuk mengatasi pemadaman komunikasi di negara tersebut.

Tak cuma itu, Iran bisa mendorong sekutu untuk bergabung dengan turut menjatuhkan Hukuman ke negara Timur Tengah ini.

[Gambas:Photo CNN]

3. Krisis suksesi

Khamenei berusia 86 tahun dan berada di dekade keempat kekuasaannya.

Selama Pertempuran Juni tahun lalu, Khamenei tampak absen dari pandangan publik. Ketidakhadiran ini terus jadi pertanyaan dan menggema.

Terlebih lagi, banyak ajudan dan orang kepercayaan Khamenei tewas dalam Pertempuran 12 Hari. Sebegitu banyak pejabat penting yang gugur, kekompakan aparatur dalam mengambil keputusan pun diuji.

Tanpa ada gejolak rakyat, Iran pun Pernah terjadi di ada perubahan sistemik. Salah satu kemungkinan hasilnya Merupakan evolusi teokrasi Islam menjadi negara nasionalis garis keras yang diperintah struktur keamanan.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij punya banyak pengalaman menekan tuntutan rakyat dengan Tindak Kekerasan massal. Di tubuh korps itu Bahkan belum ada tanda-tanda perubahan struktur akibat pembelotan.

Bertolak belakang dengan, krisis suksesi yang membayangi, Pada saat yang sama dengan kerentanan dan keresahan rakyat yang meluas, menciptakan kondisi Menarik perubahan revolusioner. SItuasi ini punya kesamaan dengan pemberontakan yang melanda Iran 47 tahun lalu dan mengarah ke pendirian Republik Islam.



Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version