Iran menjadi sorotan karena Aksi Massa besar-besaran yang mengguncang negara itu Sampai sekarang Di waktu ini Pernah menewaskan 646 orang. Amerika Serikat dan sekutunya mewanti-wanti pemerintahan bisa tumbang Bila terus menanggapi pedemo dengan Tindak Kekerasan.
AS Bahkan menunjukkan sinyal bakal menyerang Iran dengan klaim Mendukung kebebasan rakyat. Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menilai pemerintahan Donald Trump punya motif lain: mengincar minyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khamenei Bahkan menduga kerusuhan yang terjadi di Iran belakangan ini ada campur tangan AS.
“Mereka memulai konflik ini. AS yang memulainya, musuh yang bergantung pada AS yang memulai ini. Mengapa mereka memulai ini? Mengapa AS begitu muak dan marah terhadap Iran? Penjelasannya jelas. Itu karena kekayaan negara ini,” ucap Khamenei.
Iran pernah punya riwayat diguncang Aksi Penolakan besar Sampai sekarang pergantian pemerintahan. Bertolak belakang dengan, perubahan itu Bahkan tak lepas dari campur tangan asing.
Dalam Aksi Penolakan kali ini dan 2022 lalu, Iran kembali diguncang unjuk rasa besar-besaran setelah Mahsa Amini tewas. Warga saat itu menuntut keadilan dan transparansi. Bertolak belakang dengan, pasukan keamanan menindak pendemo dengan Tindak Kekerasan.
Aksi Penolakan kali ini pun menggambarkan pola yang sama: Penolakan massal, penindasan, dan seruan perubahan pemerintahan. Bertolak belakang dengan, pergantian rezim tak bisa terjadi begitu saja.
Meski tak langsung berganti, ada situasi atau tanda-tanda yang bisa membuat rezim Khamenei melemah, dikutip CNN.
1. Lebih lemah dari sebelumnya
Sejak Israel meluncurkan agresi ke Palestina, Iran Merupakan salah satu negara yang paling keras mengecam pemerintahan Benjamin Netanyahu.
Milisi-milisi yang didukung Iran Bahkan turut melancarkan serangan ke Israel sebagai bentuk dukungan atau solidaritas ke warga di Palestina.
Iran bahkan beberapa kali sempat bertempur dengan Israel saat agresi di Gaza masih membara. Beberapa di antaranya pada Oktober 2024 dan Juni 2025 atau yang dikenal Pertempuran 12 Hari.
Serangan terakhir membuat Lini belakang Iran berkurang meski mereka mengeklaim senjata andalannya belum dikeluarkan dan kehancurannya tak seberapa.
Bertolak belakang dengan, Bila AS dan Israel Nanti akan melancarkan serangan Niscaya Nanti akan membuat Lini belakang Iran kian melemah.
Baca ke halaman selanjutnya >>>
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
