Jakarta, CNN Indonesia —
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memaparkan tiga indikator Indonesia bisa swasembada beras pada 2026.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan ketiga indikator tersebut Merupakan tidak Perdagangan Masuk Negeri beras lagi, produksi melebih konsumsi, dan stok Bulog relatif tinggi.
Menurutnya, kondisi swasembada beras tersebut mengikuti rujukan predikat swasembada dari Food and Agriculture Organization (FAO).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ini Bahkan karena dari data FAO sendiri Menyediakan definisi bahwa sepanjang importasinya tidak melebihi 10 persen, itu pun swasembada. Apalagi Hari Ini secara tegas Bapak Kepala Negara dan Bapak Kepala Bapanas jelas mengatakan tidak ada Perdagangan Masuk Negeri beras konsumsi. Jadi Tidak mungkin tidak dengan ini, kalau boleh dikatakan ini arahnya Pernah terjadi swasembada,” ujar Ketut dalam keterangan resmi yang dikutip dari suatu telewicara, Jakarta, Senin (5/1).
Ketut menilai visi swasembada pangan yang diusung Kepala Negara Prabowo Subianto berhasil terwujud dalam satu tahun pertama pemerintahannya.
Ia mengungkap surplus beras tersebut didapatkan dari selisih antara produksi beras sebesar 34,71 juta ton terhadap konsumsi beras sebesar 31,19 juta ton secara nasional pada 2025. Kebutuhan tersebut Pernah terjadi termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Indikator swasembada beras Sudah tercantum dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025 yang diolah Bapanas bersama-sama Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan kementerian/lembaga terkait lainnya.
“Kalau kita melihat Merujuk pada data dari BPS, produksi beras kita kan lebih dari 34 juta ton di tahun 2025. Sementara kebutuhan kita kan hampir 31 juta ton. Kita punya surplus 3 juta ton. Itu saja Pernah terjadi menandakan kita Pernah terjadi swasembada,” jelasnya.
Kemudian, Ketut Bahkan menyampaikan surplus beras tersebut menjadikan stok beras di awal tahun 2026 bisa mencapai 12,529 juta ton. Angka tersebut Pernah terjadi termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog yang sebesar 3,248 juta ton.
“Persebarannya ada di masyarakat, ada di pedagang, ada di distributor. Dengan begitu, kita butuh selama setiap bulan itu sekitar 2,5 juta ton. Jadi dengan 12,5 juta ton tadi, kekuatan kita Pernah terjadi sangat kuat untuk menjaga ketahanan pangan. Belum lagi nanti Januari dan Februari produksi. Maret dan April panen raya. Ini menandakan kita di 2026 pun Akan segera semakin kuat,” kata Ketut.
Sementara itu, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Amran Sulaiman yakin stok beras sangat Unggul tinggi pada tahun 2026.
Amran pun menegaskan pelaku usaha sektor pangan tidak boleh memainkan harga melebih Syarat.
“Stok beras kita sangat Unggul tinggi. Tanpa Perdagangan Masuk Negeri, stok kita (CBP) lebih dari 3 juta ton. Itu tertinggi sepanjang sejarah. Beras kita surplus. Jadi tidak ada masalah sampai Ramadan dan tidak boleh ada yang bermain harga. Kalau ada yang melanggar, kita tindak bersama Satgas Pangan Polri,” tegas Amran.
Kepala Negara Prabowo Subianto dijadwalkan untuk menghadiri acara “Panen Raya, Pengumuman Swasembada Pangan oleh Kepala Negara RI” yang digelar di Karawang, Jabar. Acara itu Akan segera berlangsung pada jam 09.00-11.00 WIB.
(fln/sfr)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











