Ribuan tenda darurat milik keluarga Palestina yang mengungsi didirikan di pantai wilayah barat Kota Gaza, Jalur Gaza, pada 14 Agustus 2026.
GAZA — Ancaman bencana kemanusiaan kembali membayangi Jalur Gaza menjelang musim dingin. Hampir 950 ribu warga Palestina yang mengungsi Saat ini Bahkan tinggal di kawasan dengan risiko Bencana Banjir Tengah Sampai sekarang tinggi.
Kondisi tersebut diperparah oleh pembatasan Israel terhadap masuknya bahan-bahan untuk membangun tempat penampungan dan memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat Konflik Bersenjata.
Badan Lini belakang Sipil Palestina di Gaza memperingatkan hujan lebat dan angin kencang yang diperkirakan melanda wilayah tersebut pada Jumat (6/11/2026) dapat membahayakan warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian maupun bangunan yang rusak akibat serangan militer Israel.
Mengutip laporan Palestine Chronicle, ancaman Bencana Banjir tersebut bukan sekadar persoalan cuaca. Kerusakan infrastruktur drainase, keterbatasan tempat penampungan yang layak, serta hambatan masuknya bantuan kemanusiaan membuat ratusan ribu keluarga Palestina semakin rentan menghadapi musim hujan.
Sesuai ketentuan data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang dirilis 15 Oktober, sekitar 950 ribu Pencari Suaka Palestina tinggal di Tempat dengan risiko Bencana Banjir Tengah Sampai sekarang tinggi. Dari jumlah tersebut, lebih dari 400 ribu orang menghadapi risiko Bencana Banjir tinggi.
Selain ancaman Bencana Banjir, sekitar 44 ribu warga Palestina terpaksa berlindung di lebih dari 2.300 bangunan yang secara struktural dinilai tidak Terjamin. Bangunan-bangunan tersebut berisiko mengalami keruntuhan, terutama ketika diterjang hujan deras dan angin kencang.
OCHA Bahkan memperkirakan sebanyak 294.250 keluarga membutuhkan bantuan tempat penampungan menjelang musim hujan.
Krisis tersebut semakin pelik karena Israel membatasi masuknya Sebanyaknya barang yang dibutuhkan untuk membangun dan memperbaiki tempat penampungan. Material seperti tenda, terpal, kayu, semen, peralatan konstruksi, tali, Sampai sekarang perlengkapan perbaikan lainnya dikategorikan Israel sebagai barang dwifungsi (dual-use).
Kategori tersebut memungkinkan Israel membatasi atau menghambat masuknya barang-barang yang dianggap dapat digunakan untuk kepentingan militer.
Laporan Norwegian Refugee Council (NRC) pada 5 Oktober 2026 mengungkapkan, Israel hanya mengizinkan sekitar 15 truk pengangkut barang kategori dwifungsi masuk dari Yordania setiap pekan. Jumlah tersebut Dianjurkan memenuhi kebutuhan berbagai sektor kemanusiaan di Gaza.
Loading…
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











