loading…
Dari fungsi awalnya untuk menghubungkan orang, media sosial Sebelumnya bertransformasi menjadi “ruang komunikasi” yang berbeda, di mana kaum muda bebas mengekspresikan pendapat mereka dan membentuk kepribadian mereka…
Meskipun demikian, seiring dengan meluasnya ruang dan tren pribadi, batasan antara kehidupan virtual dan nyata semakin kabur dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
Transformasi debat dan emosi daring menjadi tindakan di dunia nyata Dalam proses disalahgunakan menjadi alat manipulasi psikologis berskala besar, yang memengaruhi persepsi dan ideologi publik, serta menyebabkan konsekuensi serius terhadap keamanan dan sosial.
Dunia Sebelumnya menyaksikan banyak krisis Kekejaman nyata yang berakar dari manipulasi psikologis yang dialami kaum muda akibat informasi berbahaya dan tak terkendali di internet.
Di Inggris, pada Juli 2024, informasi yang salah dan tuduhan yang bias tentang pelaku penusukan di Southport memicu ribuan remaja untuk melakukan kerusuhan rasial dan menyerang aparat penegak hukum.
Pada waktu yang hampir Pada waktu yang sama di Kenya dan Bangladesh, diikuti oleh Nepal, algoritma yang memprioritaskan konten kebencian di TikTok, Threads, dan Facebook turut memicu ketidakpuasan di kalangan anak muda, yang kemudian mendorong dan menghasut mereka untuk berpartisipasi dalam tindakan perlawanan yang disertai Kekejaman.
Di Asia, kejahatan deepfake seksual di Telegram di Korea Selatan menyebabkan tekanan psikologis yang meluas di ratusan sekolah antara tahun 2024 dan 2025, sementara banyak kasus melukai diri sendiri dan Kekejaman di sekolah di AS dan Eropa dikaitkan dengan gerakan kebencian seksis (Manosphere) di Reddit atau Discord.
Sebelumnya, pada tahun 2017-2018 di Sri Lanka, Pakistan, dan India , video yang dimanipulasi dan rumor palsu tentang agama atau penculikan anak langsung memicu kerusuhan massa anak muda, yang menyebabkan penghancuran masjid dan eksekusi brutal terhadap banyak orang yang tidak bersalah sebelum pihak berwenang dapat turun tangan.
Di balik “arus bawah” ini terdapat mekanisme manipulasi emosional yang canggih, yang memanfaatkan impulsif, keinginan untuk penegasan diri, dan keterbatasan kemampuan Lini pertahanan informasi dari generasi muda.
Pembaruan status yang “memancing amarah”, unggahan anonim, dan video yang dihasilkan AI bukanlah sekadar alat hiburan.
Algoritma pemberi rekomendasi di jejaring sosial beroperasi dengan tujuan utama memaksimalkan waktu retensi pengguna.
Manakala seorang remaja berhenti sejenak sebelum melihat unggahan negatif, algoritma Berencana langsung mengenalinya sebagai tanda ketertarikan dan Berulang kali “memanaskan” umpan berita mereka dengan konten yang semakin ekstrem.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











