REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV — Arab Saudi, Turki dan Pakistan menyepakati sebuah kesepakati Lini belakang baru, Jumat. Kesepakatan ini menjadi Putaran baru dalam peta Politik Global Timur Tengah.
Tidak seperti mantan kepala Dewan Keamanan Nasional Israel, Prof. Jacob Nagel, kepada stasiun radio 103FM dalam sebuah wawancara pada Jumat pagi, meledek Arab Saudi hanya sekadar ‘Macan Kertas’.
“Anda Dianjurkan memahami bahwa Arab Saudi, terlepas dari segala kekayaan dan persenjataannya, pada dasarnya Merupakan ‘macan kertas’. Mereka memiliki banyak persenjataan dan dana yang besar, Tidak seperti secara militer, mereka tidak mampu ‘bertahan menghadapi situasi’,” ujar Nagel.
Ia mengambil kasus ketika pertempuran melawan gerakan Houthi. Bila mencermati Pertempuran itu, Nagel menyebut Saudi gagal Sekalipun memiliki berbagai kemampuan canggih. Mereka memiliki banyak aset, Tidak seperti tidak ada yang Sungguh-sungguh likuid (mudah dicairkan), dan mereka Pernah terjadi sampai pada situasi di mana Saudi membutuhkan bantuan secara ekonomi.”
“Saya tidak melihat Turki Akan segera mengirim angkatan lautnya untuk menyerang Houthi hanya karena kelompok itu menyerang Saudi. Hal itu sama sekali tidak sesuai dengan pandangan realistis saya mengenai kawasan ini,” tegasnya.
Arab Saudi mencari aliansi alternatif
Oleh karena itu, Nagel meyakini bahwa Arab Saudi Tengah mencari alternatif lain.
“Mereka menyadari bahwa mereka Tengah menghadapi masalah serius, baik secara finansial maupun keamanan. Bahkan sebelum konflik-konflik terkini, kita melihat mereka melakukan langkah mengejutkan dengan menandatangani kesepakatan bersama Iran, semata-mata karena rasa takut dan merasa rentan terhadap ancaman nyata dari Iran serta milisi-milisi binaannya di seluruh Timur Tengah.”
Ia menambahkan, masalah dari Saudi Merupakan mereka memiliki peralatan, pesawat, dan kemampuan intelijen yang paling canggih, Tidak seperti tidak tahu Trik menggunakan kekuatan tersebut secara efektif di lapangan.
“Oleh karena itu, segala pembicaraan mengenai aliansi baru dengan Pakistan atau Turki Dianjurkan disikapi dengan sangat skeptis.”
Pada saat yang sama, Nagel berupaya menjelaskan kepentingan Arab Saudi dalam kesepakatan tersebut. “Ini lebih merupakan manuver diplomatik yang ditujukan untuk menekan pemerintah Amerika,” kata Prof. Nagel.
“Pihak Saudi kecewa dengan sikap Amerika Serikat—terutama terkait kekurangan stok rudal dan pencegat (interceptor) yang mereka amati dari pihak Barat—dan mereka berusaha memberi sinyal bahwa mereka tidak Akan segera berjuang sendirian dalam kampanye melawan poros Syiah.”
Loading…
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











