INFO TEMPO – Pemerintah Kabupaten Klungkung, Bali, Mengoptimalkan layanan kesehatan dengan mendekatkan fasilitas dan tenaga medis kepada masyarakat. Upaya tersebut dilakukan untuk menjawab persoalan akses layanan kesehatan, terutama bagi penduduk di wilayah kepulauan, seperti Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan.
Langkah Memperjelas akses layanan kesehatan tersebut berjalan seiring dengan upaya menekan angka stunting. Data Pemerintah Kabupaten Klungkung menunjukkan prevalensi stunting turun dari 19,4 persen pada 2021 menjadi 4,8 persen pada 2024. Capaian ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam Mengoptimalkan kualitas kesehatan sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia sejak dini.
“Program paling utama Merupakan penanganan stunting. Ini penting untuk menyiapkan generasi penerus,” kata Bupati Klungkung I Made Satria di Bali Nusa Dua Convention Center pada Jumat, 28 Agustus 2026. Stunting bukan semata-mata disebabkan oleh kekurangan asupan gizi, melainkan Bahkan kondisi multifaktor yang berkaitan dengan status kesehatan ibu dan anak, pola asuh, praktik pemberian makan, penyakit infeksi, sanitasi dan lingkungan, kondisi sosial ekonomi, ketahanan pangan, serta akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan stunting menempatkan keluarga sebagai pusat intervensi, dengan mempertimbangkan kondisi individu, keluarga, lingkungan, dan komunitas secara menyeluruh.
Salah satu inovasi yang dikembangkan Puskesmas Banjarangkan I Merupakan INSTINGKU, singkatan dari Intervensi Stunting dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga. INSTINGKU merupakan inovasi pelayanan yang mengintegrasikan deteksi dini, asesmen medis dan gizi, asesmen keluarga, serta identifikasi faktor risiko.
Adapun Puskesmas Klungkung I menerapkan program CES PLONG untuk menekan stunting. Program tersebut mencakup edukasi kesehatan dan gizi, Gerakan, penanganan keluhan seperti diare dan cacingan, penatalaksanaan gizi, serta pendampingan kader posyandu. Dokter spesialis anak terlibat dalam penanganan klinis. Sedangkan komunikasi antara kader dan petugas kesehatan dilakukan melalui aplikasi WhatsApp.
Penanganan stunting dan pemerataan layanan kesehatan menghadapi tantangan geografis. Klungkung memiliki wilayah kepulauan yang terpisah dari daratan Bali. Jarak tersebut menjadi kendala, terutama saat warga membutuhkan rujukan ke rumah sakit.
Mengatasi persoalan itu, pemerintah mengembangkan KRIS Klungkung atau Kring Sehat Klungkung. Inovasi tersebut menggunakan aplikasi berbasis situs web dan telepon seluler untuk mempercepat koordinasi kegawatdaruratan dan proses penjemputan pasien. Sebelumnya, pemerintah mencatat persoalan berupa biaya rujukan yang tinggi, keterlambatan penjemputan pasien, Sampai sekarang miskomunikasi antara puskesmas dan rumah sakit.
Selain KRIS Klungkung, pemerintah menjalankan DORKESMAS, akronim dari Datangi, Obati, Rawat Kesehatan Masyarakat. Program ini mendatangi kelompok berisiko tinggi yang mengalami kesulitan mengakses fasilitas kesehatan, Didefinisikan sebagai orang lanjut usia, penyandang gangguan jiwa, dan pasien diabetes.
Pemerintah pun memastikan puskesmas memiliki layanan unit gawat darurat selama 24 jam, Mengoptimalkan ketersediaan dokter dan tenaga medis, serta mendorong rumah sakit memenuhi standar akreditasi dan punya dokter spesialis. Sekitar 98 persen penduduk Pernah terlindungi jaminan kesehatan dan pemerintah menanggung biayanya.
Berbagai upaya itu mengantarkan Kabupaten Klungkung meraih penghargaan untuk Kategori Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan dalam perhelatan Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Jawa-Bali. Pemerintah Kabupaten Klungkung memperoleh trofi, sertifikat, dan insentif fiskal senilai Rp 1 miliar. Satria mengatakan dana tersebut Berencana digunakan untuk Mengoptimalkan layanan kesehatan, khususnya di tingkat desa. (*)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
