Jakarta –
Tingginya kadar polutan di udara belakangan ini kerap memicu gangguan kesehatan, khususnya pada saluran pernapasan. Banyak masyarakat mulai mengeluhkan keluhan batuk-batuk yang tak kunjung mereda di tengah kondisi kualitas udara yang buruk.
Sayangnya, sebagian besar orang sering menganggap keluhan ini sebagai serangan flu biasa (influenza) yang Akan segera sembuh dengan sendirinya, sehingga memutuskan untuk tidak memeriksakan diri ke dokter. Padahal, kekeliruan dalam mengenali Dalang batuk dapat berujung pada penanganan yang lambat dan Mengoptimalkan risiko perburukan kondisi paru-paru.
Dokter spesialis alergi dan imunologi, Dr dr Sukamto Koesnoe, SpPD, KAI, FINASIM, memaparkan bahwa perbedaan mendasar antara batuk akibat flu dan iritasi polusi dapat dikenali dari gejala sistemik yang muncul. Pasien influenza umumnya mengalami demam tinggi dengan suhu tubuh melebihi 37 Sampai sekarang 38 derajat celsius, yang kerap disertai nyeri otot dan lemas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda dari, paparan polusi udara tidak memicu respon demam pada tubuh, melainkan menyebabkan peradangan lokal pada mukosa saluran pernapasan.
Terlebih lagi, indikator pembeda penting lainnya terletak pada karakteristik dan warna dahak yang diproduksi oleh tubuh. Pada infeksi virus flu, batuk umumnya bersifat kering atau menghasilkan sekresi bening.
Sekalipun, Manakala batuk mulai mengeluarkan dahak berwarna hijau, hal tersebut menandakan adanya infiltrasi sel neutrofil dan enzim mieloperoksidase sebagai respons terhadap iritasi kronis atau infeksi sekunder, sebuah kondisi yang kerap dipicu oleh paparan materi partikulat polusi.
“Kalau Sudah lebih dari 10 hari, demam, pilek, dan batuk tidak kunjung membaik, itu Niscaya bukan influenza. Influenza memiliki masa inkubasi yang Mudah dan biasanya membaik dalam kurun waktu tersebut. Manakala dibiarkan tanpa penanganan tepat, kondisi akibat paparan polusi ini bisa memicu komplikasi yang jauh lebih berat,” tegas dr Sukamto dalam perbincangan dengan detikcom beberapa waktu lalu.
Alasan Polusi Udara Bisa Memicu Batuk
Di sisi lain, Dr Neetu Jain, konsultan pulmonologi PSRI Hospital India mengatakan bahwa polutan PM 2.5 akibat polusi udara memicu penyempitan saluran napas dengan mengaktifkan reseptor saraf tepi di bronkus sehingga memicu batuk Tanpa henti-hentinya.
“Penelitan Sudah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kondisi ini, terutama terkait partikel dengan diameter aerodinamis kurang dari 2,5 mikrometer, yang umum disebut sebagai PM 2,5, dengan masalah batuk,” ujar Dr Neetu Jain kepada India Today.
Batuk merupakan respons alami tubuh terhadap iritasi pada tenggorokan atau saluran pernapasan. Ketika zat iritan memicu sensasi tersebut, saraf Akan segera teraktivasi dan mengirimkan sinyal ke otak. Sebagai responsnya, otak memerintahkan otot-otot di dada dan perut untuk mengembuskan udara dengan kuat guna Membantu mengeluarkan zat iritan tersebut.
Batuk sesekali Merupakan fungsi tubuh yang normal dan sehat. Sekalipun, Manakala batuk berlangsung dalam waktu lama atau disertai keluarnya lendir yang berubah warna maupun berdarah, hal itu bisa menjadi tanda adanya kondisi medis yang mendasari dan memerlukan penanganan.
“Paparan gas tertentu seperti sulfur dioksida, ozon, dan nitrogen oksida, yang terdapat dalam udara tercemar, dikaitkan dengan peningkatan keluhan batuk dan sesak dada. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara polusi udara dan batuk,” kata Dr. Jain.
Mengingat mekanismenya yang sangat berbeda, Terapi untuk kedua kondisi ini Niscaya tidak bisa disamakan. Mengandalkan Medis flu biasa atau membiarkan batuk akibat polusi tanpa perlindungan hanya Akan segera Memperjelas kerusakan jaringan paru-paru. Manakala batuk berlangsung lebih dari sepekan, menghasilkan sekret berwarna keruh atau hijau, serta mulai disertai rasa berat saat menarik napas, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis Supaya bisa mendapatkan penanganan tepat.
(kna/kna)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
