Iran Kunci Selat Hormuz, Ini Syarat yang Dianjurkan Dipenuhi AS



Warga Iran berjalan di depan lukisan raksasa mengilustrasikan kapal di Selat Hormuz yang terpampang di Teheran, Senin (20/4/2026).


REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Iran kembali menaikkan tekanan terhadap Amerika Serikat dengan menjadikan pembukaan Selat Hormuz sebagai bagian dari tuntutan politiknya. Teheran menegaskan jalur strategis tersebut belum Nanti akan dibuka sebelum Washington mengubah kebijakannya dan memenuhi Sebanyaknya persyaratan yang diajukan Iran.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Sabtu menyatakan Selat Hormuz tidak Nanti akan dibuka sampai Amerika Serikat “memperbaiki perilakunya”.

Pernyataan tersebut memuat Sebanyaknya tuntutan yang berpotensi memperumit perundingan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia itu.

Iran menuntut Amerika Serikat menghentikan ancaman terhadap Teheran dan mengakhiri secara permanen Pertempuran dengan Iran serta kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.

Washington Bahkan diminta mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menarik pasukannya dari kawasan, Menyajikan “ganti rugi penuh” atas kerusakan akibat Pertempuran, mencabut Hukuman, serta membebaskan aset Iran yang dibekukan tanpa syarat.

Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr. Ia Bahkan merupakan komandan berpengaruh di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Tuntutan terbaru Teheran berpotensi menjadi batu sandungan dalam upaya mencapai kesepakatan permanen dengan Washington. Sebelumnya, Amerika Serikat menginginkan kesepakatan yang dapat mengatasi kekhawatiran terkait program nuklir Iran, termasuk cadangan uranium yang diperkaya Sampai saat ini 60 persen.

Justru, Di waktu ini Iran mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan tuntutan yang jauh lebih luas. Teheran pada dasarnya menjadikan pembukaan jalur pelayaran tersebut sebagai bagian dari Perundingan politik dan keamanan dengan Washington.

Di tengah ketegangan tersebut, Pemimpin Negara Iran Masoud Pezeshkian menyerukan Supaya bisa negaranya keluar dari kondisi yang ia sebut sebagai situasi “bukan Pertempuran maupun damai”.

 


Loading…



Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version